Kembali ke BlogCatatan Profesi

Kesetiaan yang Tidak Selalu Tepuk Tangan

apt. Ilham Hidayat, S.Si

AI Enhanced Pharmacist

15 Jul 20265 menit
Kesetiaan yang Tidak Selalu Tepuk Tangan

Mengkritik sistem bukan berarti membenci profesi. Justru sebaliknya. Kritik adalah bentuk kesetiaan yang paling berat: tetap memilih bertahan, peduli, dan berani berkata, "Ada yang harus kita perbaiki bersama."

Kesetiaan yang Tidak Selalu Tepuk Tangan

"Mengkritik sistem kesehatan yang memandang profesi apoteker secara keliru adalah bentuk kesetiaan pada profesi yang paling melelahkan. Sebab kesetiaan sejati bukan sekadar membela apa adanya, melainkan berani mengatakan bahwa ada yang salah."

Kalimat itu mungkin terdengar paradoks. Bukankah kesetiaan identik dengan dukungan? Bukankah loyalitas berarti berdiri di belakang profesi dalam keadaan apa pun? Tidak selalu.

Dalam dunia ilmu pengetahuan, sejarah menunjukkan bahwa hampir setiap lompatan besar lahir dari keberanian mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap benar. Tidak ada teori yang berkembang tanpa kritik. Tidak ada demokrasi yang sehat tanpa ruang untuk mengoreksi kebijakan. Demikian pula sebuah profesi. Ia hanya akan bertumbuh apabila memiliki keberanian untuk mengevaluasi dirinya sendiri.

Sayangnya, dalam kehidupan profesi, kritik sering kali dipersepsikan sebagai bentuk pembangkangan. Mereka yang mempertanyakan arah kebijakan dianggap terlalu vokal. Mereka yang mengusulkan perubahan dicurigai sedang mencari panggung. Padahal, kritik yang jujur justru lahir dari rasa memiliki.

Orang yang benar-benar telah kehilangan harapan biasanya tidak lagi mengkritik. Mereka memilih pergi. Mereka berpindah profesi, menarik diri dari organisasi, atau menjalani rutinitas sekadar untuk bertahan hidup. Sebaliknya, mereka yang masih bersedia menghabiskan waktu berdiskusi, menulis, mengajukan gagasan, bahkan berdebat tentang masa depan profesi, sesungguhnya sedang menunjukkan bentuk kesetiaan yang jauh lebih dalam.

Karena itu, kritik bukanlah lawan dari loyalitas. Kritik adalah ekspresi kepedulian.

Dalam konteks profesi apoteker, kritik yang paling mendasar bukanlah kepada individu. Bukan pula kepada satu organisasi atau satu regulasi tertentu. Kritik itu ditujukan kepada cara sistem kesehatan memandang profesi apoteker.

Pertanyaannya sederhana, tetapi mendasar: apakah sistem kesehatan hari ini benar-benar telah menempatkan apoteker sebagai profesi kesehatan yang utuh, ataukah masih melihatnya terutama sebagai pelengkap rantai distribusi obat?

Pertanyaan ini penting karena cara sebuah sistem memandang profesi akan menentukan bagaimana profesi itu berkembang. Sistem tidak hanya mengatur perilaku, tetapi juga membentuk identitas. Apa yang diukur akan dikejar. Apa yang diberi insentif akan berkembang. Apa yang terus-menerus diabaikan perlahan akan kehilangan makna.

Di sinilah letak persoalannya.

Masih terlalu sering keberhasilan layanan kefarmasian lebih mudah diukur dari kepatuhan administratif dibandingkan dampaknya terhadap keselamatan pasien. Kelengkapan dokumen memperoleh perhatian besar, sementara kualitas pengambilan keputusan klinis belum selalu menjadi ukuran utama. Apoteker menghabiskan banyak energi untuk memenuhi berbagai persyaratan administratif, tetapi ruang untuk mengembangkan praktik profesional yang lebih bermakna belum sepenuhnya terbuka.

Tentu administrasi memiliki fungsi penting. Tidak ada sistem pelayanan yang baik tanpa tata kelola yang baik. Namun administrasi adalah alat, bukan tujuan. Ketika alat berubah menjadi orientasi utama, profesi perlahan kehilangan esensinya.

Seorang apoteker tidak menempuh pendidikan bertahun-tahun hanya untuk menjadi ahli mengisi formulir. Ia dibentuk untuk memastikan penggunaan obat berlangsung secara aman, efektif, rasional, dan berpusat pada pasien. Pengetahuan farmakoterapi, kemampuan berpikir klinis, komunikasi profesional, hingga tanggung jawab etik merupakan inti dari profesi ini. Semua itu seharusnya menjadi pusat perhatian sistem kesehatan.

Ketika ruang praktik lebih banyak dipenuhi kewajiban administratif daripada kesempatan menjalankan kompetensi profesional, persoalannya bukan berada pada kualitas apotekernya. Persoalannya berada pada desain sistem yang belum sepenuhnya memberikan ruang bagi profesi untuk berkembang sesuai hakikatnya.

Kritik terhadap keadaan ini tidak lahir dari rasa pesimis. Justru sebaliknya. Kritik lahir karena masih ada keyakinan bahwa profesi apoteker mampu memainkan peran yang jauh lebih besar dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

Perubahan zaman sebenarnya sedang membuka peluang yang luar biasa. Kecerdasan artifisial, pelayanan kesehatan digital, pengobatan presisi, populasi lanjut usia, meningkatnya penyakit kronis, hingga kompleksitas terapi membuat kebutuhan terhadap keahlian apoteker justru semakin besar. Dunia sedang bergerak menuju pelayanan kesehatan yang semakin kolaboratif dan berbasis pengetahuan.

Ironisnya, jika sistem masih sibuk mengukur keberhasilan dari indikator yang sempit, maka potensi besar tersebut tidak akan pernah berkembang secara optimal.

Karena itu, profesi apoteker membutuhkan lebih dari sekadar adaptasi teknologi. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengevaluasi cara kita membangun sistem. Apakah regulasi telah mendorong profesionalisme? Apakah indikator keberhasilan benar-benar mencerminkan manfaat bagi pasien? Apakah pendidikan, praktik, dan kebijakan telah bergerak ke arah yang sama?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak boleh dianggap sebagai ancaman. Justru inilah tanda bahwa profesi masih hidup. Profesi yang sehat bukanlah profesi yang bebas dari kritik. Profesi yang sehat adalah profesi yang mampu mengubah kritik menjadi pembelajaran dan pembaruan.

Sayangnya, kita sering lebih sibuk mempertanyakan siapa yang berbicara daripada mendengarkan substansi yang disampaikan. Kritik dinilai dari siapa pengucapnya, bukan dari kualitas argumentasinya. Akibatnya, ruang dialog berubah menjadi ruang pembelaan diri.

Padahal, sejarah mengajarkan bahwa stagnasi selalu dimulai ketika kritik tidak lagi memiliki tempat. Ketika semua orang merasa harus selalu setuju, ketika perbedaan pandangan dianggap ancaman, dan ketika tepuk tangan lebih dihargai daripada pemikiran yang jernih, saat itulah sebuah profesi mulai kehilangan kemampuan untuk memperbaiki dirinya sendiri.

Pada akhirnya, mencintai profesi bukan berarti menganggapnya tanpa cela. Justru karena kita mencintainya, kita ingin profesi ini terus bertumbuh, semakin dihormati, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Tidak ada profesi yang menjadi besar hanya karena dipuji. Profesi menjadi besar karena memiliki keberanian untuk mengevaluasi dirinya sendiri.

Kesetiaan paling mudah adalah bertepuk tangan pada setiap kebijakan. Kesetiaan paling sulit adalah tetap mencintai profesi ini sambil berani mengoreksi arah perjalanannya. Sebab profesi yang berhenti menerima kritik biasanya sedang berjalan menuju kemunduran tanpa disadari.

Karena itu, kritik bukanlah ancaman bagi profesi apoteker. Kritik adalah vaksin bagi peradabannya. Ia mungkin menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi justru ketidaknyamanan itulah yang membangun daya tahan agar profesi ini tidak kehilangan arah, tidak kehilangan relevansi, dan tidak kehilangan makna di tengah perubahan zaman.

Bagikan artikel ini: