Kembali ke BlogCatatan Profesi

Berhenti Mengejar Pengakuan Bukan Berarti Berhenti Berjuang

apt. Ilham Hidayat, S.Si

AI Enhanced Pharmacist

24 Agu 20265 menit
Berhenti Mengejar Pengakuan Bukan Berarti Berhenti Berjuang

Berhenti mengejar pengakuan bukan berarti berhenti berjuang. Hak dan kewenangan tetap harus diperjuangkan. Tetapi value harus dibuktikan. Inilah posisi yang sebenarnya saya maksud.

Berhenti Mengejar Pengakuan Bukan Berarti Berhenti Berjuang

Tulisan saya sebelumnya tentang “Apoteker Harus Berhenti Mengejar Pengakuan” ternyata memunculkan respons yang cukup keras.

Ada yang membaca tulisan tersebut seolah-olah saya sedang meminta apoteker untuk berhenti memperjuangkan hak, kewenangan, kesejahteraan, dan posisi profesionalnya.

Kalau itu yang tertangkap, berarti saya perlu memperjelas satu hal:

Bukan itu maksud saya.

Justru saya percaya apoteker harus terus memperjuangkan hak dan kewenangannya. Tidak ada profesi yang menjadi kuat hanya dengan diam dan menerima keadaan.

Hak Harus Diperjuangkan, Value Harus Dibuktikan

Saya memahami kegelisahan banyak sejawat.

Ada apoteker yang merasa tanggung jawabnya besar tetapi kewenangannya terbatas. Ada yang merasa kompetensinya tidak mendapatkan ruang yang layak. Ada yang bekerja dengan remunerasi yang tidak selalu sebanding dengan pendidikan dan tanggung jawab profesionalnya.

Ada pula pengalaman tentang profesi yang dipercaya ketika dibutuhkan, tetapi dipertanyakan ketika mulai menuntut ruang.

Semua itu nyata dan tidak boleh dinafikan.

Karena itu, kalimat “berhenti mengejar pengakuan” tidak boleh diterjemahkan menjadi “berhenti memperjuangkan hak.”

Hak tetap harus diperjuangkan.

Kewenangan tetap harus diperjuangkan.

Kesejahteraan tetap harus diperjuangkan.

Regulasi yang lebih adil tetap harus diperjuangkan.

Dan ketika ada kebijakan yang merugikan profesi, tentu harus dikritisi.

Tetapi saya sedang berbicara tentang sesuatu yang berbeda: jangan menjadikan pengakuan orang lain sebagai ukuran utama nilai diri sebuah profesi.

Ada perbedaan antara memperjuangkan hak dengan meminta validasi.

Yang pertama adalah perjuangan profesional.

Yang kedua bisa menjadi jebakan psikologis.

Kita tidak perlu terus mengatakan bahwa apoteker penting. Kita perlu menunjukkan mengapa apoteker penting.

Kita tidak perlu sekadar mengatakan bahwa kita kompeten. Kita perlu memperlihatkan kompetensi itu melalui keputusan, intervensi, pelayanan, keselamatan pasien, dan outcome yang dapat dibuktikan.

Sebab ada satu pertanyaan yang menurut saya harus terus kita ajukan kepada diri sendiri:

Jika semua atribut, gelar, jabatan, dan pengakuan dilepaskan, apa sebenarnya value yang kita berikan?

Jangan Menunggu Diakui untuk Menjadi Profesional

Saya juga tidak sedang mengatakan bahwa sistem selalu adil.

Justru sebaliknya.

Kadang seorang profesional sudah memiliki value, tetapi sistem belum memberikan ruang yang memadai untuk menunjukkannya.

Dalam situasi seperti itu, tentu kita harus memperjuangkan ruang tersebut.

Namun setelah ruang diberikan, pertanyaannya kembali kepada kita:

Apa yang kita lakukan dengan ruang itu?

Jangan sampai kita menghabiskan energi untuk meminta kewenangan, lalu ketika kewenangan diberikan kita tidak mampu menunjukkan dampaknya.

Jangan sampai kita menuntut posisi strategis, tetapi tidak siap mengambil tanggung jawab strategis.

Jangan sampai kita meminta masyarakat memahami profesi kita, tetapi kita sendiri tidak mampu menjelaskan kontribusi profesi dengan bahasa yang bisa dipahami masyarakat.

Inilah yang saya maksud dengan membangun professional value.

Bukan pasrah.

Bukan nrimo.

Bukan menerima perlakuan tidak adil.

Dan tentu bukan membiarkan profesi lain mengambil ruang yang seharusnya menjadi domain kita.

Justru sebaliknya.

Perjuangkan hak dengan keras. Bangun value dengan serius.

Karena hak memberi kita ruang untuk bekerja, tetapi value membuat ruang itu layak dipertahankan.

Saya tetap percaya bahwa apoteker harus memperjuangkan pengakuan profesionalnya.

Tetapi saya juga percaya, pengakuan yang paling kuat bukanlah ketika kita berhasil membuat orang berkata, “Apoteker itu penting.”

Pengakuan yang paling kuat adalah ketika sistem pelayanan kesehatan sampai pada kesimpulan:

“Kita tidak bisa memberikan pelayanan yang baik tanpa kontribusi apoteker.”

Jadi, kalau tulisan saya sebelumnya terdengar seperti ajakan untuk berhenti berjuang, izinkan saya memperbaikinya.

Jangan berhenti memperjuangkan hak.

Tetapi berhentilah menjadikan pengakuan orang lain sebagai satu-satunya ukuran harga diri profesi.

Karena profesi yang dewasa bukan profesi yang berhenti menuntut.

Dan bukan pula profesi yang hanya sibuk menuntut.

Profesi yang dewasa adalah profesi yang mampu memperjuangkan haknya sekaligus membuktikan bahwa ketika hak itu diberikan, ia mampu menghasilkan value yang nyata.

Itulah yang sebenarnya saya maksud.

Bagikan artikel ini: