Kembali ke BlogCatatan Profesi

Apoteker Harus Berhenti Mengejar Pengakuan

apt. Ilham Hidayat, S.Si

AI Enhanced Pharmacist

23 Agu 20265 menit
Apoteker Harus Berhenti Mengejar Pengakuan

Apoteker ingin dihargai. Tapi sudahkah kita menunjukkan value yang membuat profesi ini dibutuhkan? Saatnya berhenti mengejar pengakuan publik...

Apoteker Harus Berhenti Mengejar Pengakuan

Ada satu kalimat yang cukup sering saya dengar dari kalangan apoteker: “Profesi kita harus lebih dihargai.”

Saya tidak sepenuhnya menolak kalimat itu. Apoteker memang memiliki kompetensi, tanggung jawab, dan posisi penting dalam sistem pelayanan kesehatan. Tetapi saya mulai bertanya: mengapa kita begitu sibuk mengejar pengakuan?

Bukankah pengakuan seharusnya menjadi akibat dari sebuah nilai, bukan sesuatu yang terus-menerus kita minta?

Di sinilah saya melihat persoalan yang lebih mendasar.

Profesi apoteker mungkin tidak kekurangan kompetensi. Yang sering kurang adalah kemampuan untuk menunjukkan apa nilai konkret dari kompetensi tersebut bagi pasien, fasilitas pelayanan kesehatan, dan sistem kesehatan.

Kita memiliki ilmu farmakologi, farmakoterapi, farmasetika, toksikologi, farmakokinetik, hingga manajemen terapi obat. Tetapi berapa banyak dari kompetensi tersebut yang benar-benar terlihat oleh pasien?

Pasien sering mengenal apoteker sebagai orang yang menyerahkan obat.

Sistem sering mengenal apoteker sebagai penanggung jawab kefarmasian.

Sementara profesi sendiri sering sibuk menjelaskan bahwa apoteker sebenarnya memiliki kompetensi yang jauh lebih luas.

Ada paradoks di sini.

Kalau value kita memang besar, mengapa value itu begitu sulit terlihat?

Mungkin persoalannya bukan selalu karena pihak lain tidak menghargai apoteker. Mungkin sebagian masalahnya justru karena kita belum cukup berhasil menerjemahkan kompetensi menjadi outcome.

Profesi tidak menjadi kuat hanya karena memiliki undang-undang, gelar, organisasi, atau kewenangan.

Profesi menjadi kuat ketika masyarakat merasakan manfaatnya.

Seorang apoteker tidak perlu terus mengatakan, “Saya penting.”

Lebih kuat jika pasien mengatakan, “Untung ada apoteker.”

Lebih kuat lagi jika dokter mengatakan, “Saya membutuhkan pertimbangan apoteker dalam kasus ini.”

Dan yang paling kuat adalah ketika sistem pelayanan kesehatan memang tidak dapat menghasilkan pelayanan obat yang aman dan rasional tanpa kontribusi apoteker.

Di titik itulah pengakuan menjadi sesuatu yang berbeda.

Ia bukan lagi sesuatu yang diminta.

Ia menjadi konsekuensi dari value.

Saya kira kita perlu mengubah cara berpikir.

Bukan lagi:

“Bagaimana supaya apoteker lebih dihargai?”

Tetapi:

“Apa yang harus dilakukan apoteker sehingga kontribusinya memang layak dihargai?”

Pertanyaan kedua jauh lebih berat.

Karena ia memaksa kita bercermin.

Apakah praktik kita sudah benar-benar berorientasi pada pasien?

Apakah kita mampu menyelesaikan masalah terkait obat?

Apakah intervensi kita menghasilkan outcome yang dapat dibuktikan?

Apakah keberadaan kita membuat terapi menjadi lebih aman, efektif, rasional, dan ekonomis?

Dan apakah masyarakat benar-benar memahami kontribusi tersebut?

Jika jawabannya belum, mungkin kita tidak membutuhkan lebih banyak slogan tentang pentingnya apoteker.

Kita membutuhkan lebih banyak bukti tentang pentingnya apoteker.

Ini bukan berarti apoteker harus diam ketika terjadi ketidakadilan terhadap profesi. Bukan pula berarti kita tidak perlu memperjuangkan regulasi, kewenangan, kesejahteraan, atau posisi profesional.

Justru sebaliknya.

Perjuangan profesi akan jauh lebih kuat ketika berdiri di atas value yang nyata.

Sebab pada akhirnya, sebuah profesi tidak memperoleh posisi hanya karena meminta ruang.

Ia memperoleh ruang karena mampu menunjukkan bahwa kontribusinya memang dibutuhkan.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya, “Mengapa apoteker tidak dihargai?”

Dan mulai bertanya:

“Apa yang sudah kita lakukan sehingga dunia kesehatan tidak bisa mengabaikan kontribusi apoteker?”

Karena profesi yang kuat tidak sibuk mengatakan bahwa dirinya penting.

Ia membuat sistem menyadari bahwa tanpa dirinya, ada sesuatu yang hilang.

Bagikan artikel ini: